Transformasi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengelolaan perguruan tinggi modern. Sistem akademik, layanan administrasi, komunikasi kelembagaan, hingga aktivitas mahasiswa kini bergantung pada teknologi digital. Di tengah kemajuan tersebut, perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan yang semakin nyata, yaitu meningkatnya ancaman cyber crime yang menyasar dunia pendidikan.
Kesadaran inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya sesi berbagi bertema “Mendeteksi Cyber Crime dan Cara Mengatasinya”, sebuah kegiatan yang menempatkan keamanan digital sebagai isu strategis, bukan sekadar persoalan teknis.
What (Apa): Sesi Berbagi Keamanan Digital di Lingkungan Akademik
Kegiatan ini merupakan Practitioner Sharing yang mengangkat tema cybersecurity, dengan fokus pada pemahaman dasar mengenai cyber crime, pola kejahatan siber yang sering terjadi, serta cara-cara sederhana namun krusial untuk meminimalkan risikonya.
Alih-alih membahas aspek teknis secara mendalam, sesi ini menekankan kesadaran digital (digital awareness) sebagai lapisan pertahanan pertama, khususnya bagi civitas akademika.
Who (Siapa): Praktisi dan Civitas Akademika
Sesi berbagi ini menghadirkan Dyan Galih, seorang praktisi teknologi dan keamanan digital, yang juga dikenal sebagai Founder ngeteh.id. Dalam forum ini, narasumber membagikan pengalaman nyata menghadapi berbagai bentuk cyber crime dari sudut pandang praktisi, sehingga materi lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa dan pengelola kampus.
Kegiatan ini diinisiasi dan dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Bisnis dan Hukum, Universitas PGRI Yogyakarta, dengan sasaran utama mahasiswa Program Studi Bisnis Digital angkatan 2023–2025, serta terbuka bagi masyarakat umum
When (Kapan) dan Where (Di Mana): Waktu dan Lokasi Pelaksanaan
Kegiatan Practitioner Sharing ini diselenggarakan pada:
- Hari/Tanggal: Sabtu, 20 Desember 2025
- Waktu: 09.00 WIB – selesai
- Tempat: Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta
Pemilihan format luring (offline) memungkinkan interaksi langsung antara narasumber dan peserta, sekaligus mendorong diskusi yang lebih reflektif mengenai isu keamanan digital di dunia pendidikan
Why (Mengapa): Cyber Crime sebagai Ancaman Nyata di Kampus
Latar belakang kegiatan ini berangkat dari realitas bahwa perguruan tinggi menyimpan ekosistem data yang sangat besar dan kompleks. Data mahasiswa, dosen, penelitian, keuangan, serta sistem komunikasi internal menjadikan kampus target empuk bagi pelaku kejahatan siber.
Materi sesi menegaskan bahwa banyak insiden cyber crime tidak terjadi karena kelemahan sistem semata, melainkan karena:
- Kurangnya kewaspadaan pengguna,
- Kebiasaan digital yang tidak aman,
- Minimnya literasi keamanan siber.
Dalam konteks ini, mahasiswa—sebagai pengguna aktif teknologi—memiliki peran strategis dalam menentukan aman atau tidaknya ekosistem digital kampus.
How (Bagaimana): Dari Kesadaran Menuju Budaya Keamanan Digital
Salah satu pesan kunci yang disampaikan adalah bahwa menghadapi cyber crime tidak selalu membutuhkan solusi rumit. Langkah awal justru dimulai dari hal-hal mendasar, seperti:
- Sikap waspada terhadap pesan, tautan, dan permintaan data.
- Kebiasaan digital yang lebih aman dan bertanggung jawab.
- Tidak mudah percaya pada informasi atau permintaan yang datang melalui kanal digital.
Pendekatan ini menempatkan keamanan digital sebagai budaya, bukan sekadar respons teknis. Perguruan tinggi didorong untuk memandang cybersecurity sebagai bagian dari budaya akademik—sejajar dengan etika akademik dan tata kelola institusi.
Baca juga: Mitigasi dan Penanggulangan Defacement Slot Gacor pada Website Perguruan Tinggi
Mahasiswa sebagai Garda Terdepan Keamanan Siber
Dalam sesi ini juga ditekankan bahwa mahasiswa bukan hanya pengguna teknologi, tetapi penentu utama keamanan ekosistem digital kampus. Aktivitas mahasiswa yang intens di ruang digital menjadikan mereka garda terdepan dalam mendeteksi potensi ancaman sejak dini.
Dengan literasi yang memadai, mahasiswa dapat berperan sebagai:
- Agen perubahan dalam membangun kesadaran keamanan digital,
- Pengguna kritis yang mampu mengenali pola cyber crime,
- Mitra strategis kampus dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.
Implikasi bagi Pimpinan dan Pengambil Kebijakan Kampus
Bagi pimpinan perguruan tinggi, kegiatan ini memberikan pesan strategis bahwa keamanan digital tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada unit teknis. Dibutuhkan kebijakan, edukasi berkelanjutan, serta integrasi literasi keamanan siber dalam kehidupan akademik.
Cyber crime mungkin tidak dapat dihindari sepenuhnya, namun risikonya dapat diminimalkan melalui pendekatan yang holistik—menggabungkan teknologi, kebijakan, dan kesadaran manusia.




0 Comments