Menyatukan Visi Akademik dan Industri: Universitas PGRI Yogyakarta Tinjau Kurikulum Prodi Bisnis Digital Bersama Praktisi

Yogyakarta, 5 Juni 2025 – Dalam upaya memperkuat relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja, Fakultas Bisnis dan Hukum Universitas PGRI Yogyakarta menggelar pertemuan strategis yang melibatkan perwakilan dari industri dan akademisi. Bertempat di Ruang Sidang Gedung C Lantai 3, acara ini menjadi forum diskusi penting untuk melakukan review kurikulum Program Studi Bisnis Digital dan mendapatkan masukan langsung dari dunia industri. Sinergi Penting antara Kampus dan Industri Pertemuan ini merupakan bagian dari komitmen Universitas PGRI Yogyakarta dalam menjaga keberlanjutan dan kualitas pendidikan tinggi, khususnya di era digital yang sangat dinamis. Hadir dalam agenda ini Dekan Fakultas Bisnis dan Hukum, Wakil Dekan, Ketua Program Studi Bisnis Digital, serta sejumlah dosen pengampu mata kuliah inti. Dari pihak industri, hadir Perwakilan dari AKSA DIGITAL GROUP – PT Pasal Tigapuluh Satu (PT Pusat) yang telah memiliki pengalaman panjang di sektor digital dan pemasaran modern. Tujuan utama dari pertemuan ini adalah untuk: Kebutuhan Kompetensi: Lebih dari Sekadar Hard Skill Salah satu topik utama dalam diskusi adalah peta kompetensi yang dibutuhkan lulusan di era digital saat ini. Perwakilan industri menekankan bahwa mahasiswa tidak hanya harus mahir secara teknis, tetapi juga memiliki soft skill yang kuat. “Kami butuh talenta yang tidak hanya paham teknologi, tapi juga mampu bekerja dalam tim, berpikir kritis, dan cepat beradaptasi dengan perubahan pasar,” ujar Bapak Awaludin Zakaria, CEO PT Pusat sekaligus perwakilan industri dalam sesi diskusi. Hard skill yang dibutuhkan antara lain: Namun, soft skill seperti komunikasi efektif, tanggung jawab kerja, dan inisiatif dalam memecahkan masalah menjadi pembeda utama antara kandidat yang biasa dan luar biasa. Mengikuti Tren Industri: Adaptasi Kurikulum Itu Penting Dunia industri saat ini sangat dinamis. Menurut Ibu Agatta selaku Tim Pemasar AKSA DIGITAL GROUP, tren seperti otomatisasi, AI, dan transformasi digital membuat banyak perusahaan perlu beradaptasi dengan cepat. Mahasiswa yang disiapkan dengan kurikulum tradisional mungkin akan kewalahan ketika terjun langsung ke dunia kerja. Oleh karena itu, kurikulum harus fleksibel dan dinamis, bisa merespons perubahan teknologi dan perilaku konsumen dengan cepat. Kampus perlu mulai mengintegrasikan modul berbasis studi kasus industri nyata, baik dalam bentuk simulasi proyek maupun studi lapangan. Saran Penguatan Kurikulum: Studi Kasus, Proyek, dan Magang Sebagai tindak lanjut dari diskusi, pihak industri memberikan sejumlah saran konkret untuk penguatan kurikulum Program Studi Bisnis Digital: Membangun Mentalitas Siap Kerja Sejak di Bangku Kuliah Tidak hanya soal keterampilan, pihak industri juga menyoroti pentingnya mentalitas kerja profesional. Dunia kerja saat ini menuntut individu yang tahan terhadap tekanan, gesit terhadap perubahan, dan mampu bekerja dalam tim lintas disiplin. Mahasiswa perlu dibentuk mentalnya agar siap menghadapi realitas dunia kerja. Banyak dari mereka shock ketika masuk dunia kerja karena tidak terbiasa dengan tekanan deadline atau perubahan strategi. Rekomendasi dari diskusi: Komitmen Fakultas: Menuju Kurikulum Responsif dan Adaptif Dekan Fakultas Bisnis dan Hukum menyambut baik berbagai masukan dari industri. Menurutnya, sinergi seperti ini akan menjadi model pembelajaran baru yang lebih inklusif dan relevan. “Kami percaya bahwa kolaborasi dengan industri bukan hanya kebutuhan, tetapi keniscayaan. Mahasiswa kami harus siap bersaing secara global, dan itu hanya bisa terjadi bila kurikulum disesuaikan dengan realitas industri,” tegas beliau dalam penutupan acara. Langkah konkret selanjutnya yang akan diambil fakultas adalah: Kesimpulan: Kolaborasi Jadi Kunci Pendidikan Masa Depan Pertemuan pada tanggal 5 Juni 2025 ini bukan sekadar tinjauan kurikulum, tetapi juga tonggak penting dalam menyatukan visi pendidikan tinggi dan industri digital. Di tengah perubahan teknologi yang cepat dan kebutuhan pasar yang terus berkembang, sinergi seperti ini menjadi fondasi dalam mencetak lulusan yang unggul, relevan, dan siap kerja. Universitas PGRI Yogyakarta, melalui Fakultas Bisnis dan Hukum, menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya menghasilkan lulusan akademis, tetapi juga profesional muda yang siap berkontribusi secara nyata di dunia kerja.

Mendorong Transformasi Digital Kampus Swasta bersama LLDIKTI XIII dan PT Pusat

Dalam sebuah sesi daring yang berlangsung interaktif pada 21 Juli 2025, PT Pasal Tigapuluh Satu (PT Pusat) berkesempatan untuk berbagi insight dan strategi terkini mengenai digitalisasi kampus kepada jajaran pimpinan dan anggota Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIII. Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Kepala LLDIKTI XIII, Dr. Rizal Munadi, yang menyambut baik inisiatif tersebut sebagai bagian dari upaya kolektif mendorong kampus-kampus swasta untuk lebih adaptif dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi di era digital. Tantangan Nyata di Hadapan Kita Dalam paparannya, PT Pusat menyoroti fenomena yang saat ini sedang menjadi perhatian nasional: menurunnya angka pendaftaran mahasiswa baru, terutama di kalangan kampus swasta. Berdasarkan data BPS 2023, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia baru mencapai 31,45% — jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia (43%), Thailand (49,29%), dan Singapura (91,09%). Di sisi lain, Indonesia juga menjadi salah satu dari 15 negara dengan jumlah NEET (Not in Education, Employment, or Training) tertinggi di Asia Pasifik. Kondisi ini menunjukkan urgensi perubahan pendekatan dalam menjangkau calon mahasiswa, termasuk dengan memperkuat kehadiran digital sebagai jalur utama komunikasi dan pengaruh. Gen Z dan Perubahan Jalur Keputusan Materi bertajuk “Digital Activation for Campus” yang disampaikan PT Pusat menggarisbawahi pergeseran mendasar dalam cara generasi muda mencari dan memilih perguruan tinggi. Dulu, proses ini mungkin dimulai dari brosur atau baliho. Kini, perjalanan tersebut dimulai di media sosial, ditelusuri melalui mesin pencari, dan berakhir pada website resmi kampus sebagai pusat informasi dan konversi. Memahami alur digital yang terintegrasi ini menjadi kunci bagi kampus untuk tidak hanya menjangkau audiens secara tepat sasaran, tetapi juga meyakinkan mereka melalui medium yang relevan dan kontekstual. Dalam proses ini, kampus yang mampu menampilkan narasi autentik, visual menarik, dan informasi terstruktur akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari calon mahasiswa dan orang tua mereka. PT Pusat juga menegaskan bahwa promosi digital tidak semata-mata tentang Instagram atau TikTok—tetapi tentang bagaimana seluruh ekosistem digital kampus berfungsi secara terintegrasi, mulai dari social media awareness, keyword strategy, hingga optimalisasi website admission dan CRM. Studi Kasus Nyata: Dari Aktivasi ke Konversi Dalam sesi tersebut, PT Pusat turut membagikan data hasil aktivasi digital beberapa klien kampus di wilayah lain. Salah satu studi kasus menampilkan kampus yang berhasil menjaring 135.000 pengguna baru, menghasilkan lebih dari 6 juta tayangan dan 4,3 juta impresi dalam periode Mei hingga Juli 2025. Hasil ini dicapai melalui kombinasi strategi media sosial (organik dan berbayar), pengelolaan keyword untuk SEO, serta pemanfaatan berbagai kanal pendaftaran online yang ramah pengguna. Secara nyata, pendekatan ini berhasil meningkatkan angka konversi pendaftaran mahasiswa baru. Kampus sebagai Sumber Informasi Terpercaya Tak kalah penting dari strategi teknis, PT Pusat menekankan kembali peran institusi pendidikan tinggi sebagai sumber informasi yang kredibel. Di tengah maraknya konten singkat dan influencer yang kerap menyederhanakan narasi pendidikan, kampus perlu aktif menjadi penyeimbang informasi dengan menghadirkan cerita nyata, keberhasilan alumni, dan peluang nyata bagi mahasiswa di masa depan. Dalam konteks ini, kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga aktor penting dalam membangun persepsi publik tentang pentingnya pendidikan tinggi. Ajakan Kolaboratif: Kampus Menjadi Pemain Aktif Menutup presentasi, PT Pusat mengajak LLDIKTI XIII dan para pimpinan kampus di wilayah tersebut untuk lebih proaktif dalam menggunakan pendekatan digital secara terstruktur. Bukan hanya sebagai alat promosi, namun sebagai strategi membangun daya saing dan keberlanjutan institusi. Beberapa langkah yang disarankan meliputi: Sesi ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan semangat inovasi digital di lingkungan pendidikan tinggi swasta. Dengan dukungan dan koordinasi dari LLDIKTI XIII, diharapkan langkah-langkah konkret dapat segera diambil oleh masing-masing kampus untuk menyongsong tantangan masa depan. Tentang PT Pasal Tigapuluh SatuPT Pasal Tigapuluh Satu (PT Pusat) merupakan penyedia solusi strategi digital untuk lembaga pendidikan dan pemerintahan. Dalam beberapa tahun terakhir, PT Pusat telah bermitra dengan berbagai instansi, termasuk Universitas Gadjah Mada, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan puluhan kampus lainnya. Fokus utamanya adalah membangun sistem komunikasi digital yang adaptif, terukur, dan berdampak nyata terhadap transformasi kelembagaan.